TABLOID MOM AND KIDDIE

Friday, July 28, 2006

MOM AND DAD'S ROOM

Tips Mengobrol dengan Orang yang Berkabung

Mendengar dengan Hati

Bagi kebanyakan orang, memulai percakapan dengan orang yang tengah berkabung adalah salah satu hal yang paling sulit dan mencemaskan. Begitu menakutkan sehingga banyak orang memilih untuk tak melakukannya, atau terpaksa melakukannya dengan banyak kekeliruan sehingga bersumpah takkan pernah mau melakukannya lagi. Padahal, kalau Anda tahu bagaimana memulainya, bagaimana menyimak pembicaraan orang lain dan bagaimana mengakhirinya, maka yang perlu Anda lakukan hanyalah membuka hati Anda dan bereaksi secara alamiah seperti percakapan biasa lainnya.

Bagaimana Memulai Percakapan

Berikut ini satu contoh pembukaan obrolan yang biasanya berhasil. Sesekali Anda mungkin menghadapi orang yang enggan, tapi biasanya, jika orang yang berduka tahu kalau Anda sungguh-sungguh tulus mau mendengarkannya, maka mulut dan hatinya akan terbuka.

Anda: Halo, ini Nadja, aku menelpon untuk mengetahui kabarmu. Apakah aku bisa menemuimu?

Yang berduka: Ya begitulah, baik.

A: Jadi, bagaimana keadaanmu?

Y: Aku baik-baik saja.

A: Bagaimana hari-harimu?

Y: Yah, biasalah, naik-turun.

A: Seperti apa kalau sedang nggak enak?

Y: Aku terus menerus bertanya apa yang sudah terjadi. Apa kalau aku melakukan hal yang berbeda maka hasilnya tidak akan seperti sekarang ini.

A: Seperti apa misalnya?

Y: Aku sendiri nggak tahu. Aku sekarang nggak bisa mikir apa pun.

A: Aku dengar sih hal seperti itu normal. Mungkin kamu masih terkejut. Semuanya kelihatan seperti bukan kenyataan.

Y: Bukan, bukan begitu. Aku hanya nggak percaya kalau dia sudah nggak ada.

A: Bagaimana kejadiannya?

Y: Waktu itu kami sedang...

Perhatikan bahwa semua pertanyaan bersifat terbuka dan satu pernyataan bersifat empatis dan informasional. Sangat penting untuk bereaksi secara alamiah sehingga percakapan tidak menjadi interogasi. Pertanyaan terbuka tidak bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak.” Karena itu, cera tercepat menamatkan perbincangan adalah dengan mengajukan pertanyaan tertutup yang bisa dijawab dengan “ya” atau tidak.” Amati pula bahwa dalam obrolan pendek itu Anda telah mengkomunikasikan bahwa Anda peduli – benar-benar peduli – akan keadaannya; bahwa dia bisa menceritakan perasaannya; bahwa Anda punya waktu untuk mendengarkannya dan sedikit informasi tentang apa yang normal.

Kalau ia ingin bicara, Anda cukup dengan sesekali menjawab seperti “oh” atau “masya Allah” atau “lalu apa yang kamu lakukan?” atau “wah, pasti sakit ya” atau “bagaimana perasaanmu?” hanya untuk meyakinkannya bahwa Anda benar-benar aktif mendengarkan.


Bagaimana Menyimak Pembicaraan

- Sebelum Anda menelpon orang yang berkabung, pastikan kalau Anda punya cukup waktu untuk mendengar ceritanya. Soalnya, kalau Anda berhasil menelponnya dan pandai mendengarkan, bisa jadi telpon itu berlangsung setengah, satu jam atau lebih.

- Aturan pertama menyimak yang baik adalah membayangkan diri Anda sendiri sedang berduka. Lakukan ini sebelum Anda menelpon dan saat Anda mendengarkan ceritanya.

- Kalau Anda tak terlalu akrab dengannya, sering-sering menyebut namanya untuk menambah keintiman.

- Pakailah pernyataan-pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti contoh di atas.

- Kalau Anda bertemu langsung dengan orangnya, arahkan tubuh Anda pada lawan bicara, dan bicara dengan derajad fisik yang setara. Cobalah untuk tidak merentangkan tangan atau kaki Anda. Bicaralah dengan suara lembut, santai, dan hangat. Buat kontak mata sebanyak mungkin jika dia merasa nyaman dengan bertatap langsung.

- Hindari memberi nasehat atau saran, bahkan jika diminta. Katakan saja seperti “Wah aku nggak tahu. Menurutmu sendiri apa yang sebaiknya dilakukan?”

- Jangan menyela pembicaraannya.

- Yakinkan dia bahwa Anda memang menyimak dan ingin terus mendengarkan dengan tanggapan seperti “oh” atau “bagaimana perasaanmu” seperti contoh di atas.

- Biarkan orang yang berduka jauh lebih banyak berbicara.

- Biarkan saja kalau ada keheningan dalam percakapan Anda. Kadang-kadang orang yang berduka menangis atau tak mampu berkata-kata. Anda bisa tetap hening atau menenangkannya dengan membiarkannya beristirahat sebelum ia melanjutkan lagi. Kalau Anda berusaha mengisi kekosongan itu, berarti Anda menyampaikan pesan kepadanya bahwa Anda merasa kikuk dan tak nyaman terhadap reaksi normal mereka.


Bagaimana Mengakhiri Perbincangan

Mengakhiri suatu obrolan yang penuh perasaan dengan cara anggun tentu sangat sulit. Anda hanya bisa berharap orang yang berkabung itu punya alasan untuk menamatkan percakapan. Kalau tidak, cobalah menemukan ketenangan dalam percakapan itu dan katakan seperti, “sepertinya kamu bisa mengatasi semuanya dengan baik seperti harapan kita semua. Aku sungguh gembira kita bisa bicara seperti ini. Aku akan menelponmu lagi segera kalau kamu tidak keberatan.” (berhenti sejenak menunggu responsnya) “Dan kamu bisa menelponku kapan saja. Aku tahu kadang-kadang kita memang perlu mengutarakan perasaan kita agar semuanya bisa lebih tertata.” Anda bisa menemukan gaya sendiri dalam menutup pembicaraan.

Masih banyak yang bisa disampaikan soal teknik berbicara, tapi yang penting Anda merasa lebih nyaman untuk menelpon, berkunjung dan bercakap-cakap dengan orang yang sedang bersedih. Seringkali mereka begitu terisolasi karena kita takut mengatakan atau melakukan kesalahan yang bisa membuatnya makin perih.

Jangan khawatir. Meski Anda salah ucap, besar kemungkinan mereka yang berduka tidak peduli dan lebih ingat bahwa Anda adalah orang yang sangat peduli. Bahwa Anda selalu ada jika mereka membutuhkan Anda. Kata-kata, pada akhirnya, sangat bergantung pada niat tulus Anda. DB